oleh

Wiwik: Perda Nomor 14 Tahun 2019 Harapan Baru Ketahanan Keluarga

WAKIL Ketua Komisi I DPRD Sulawesi Tengah (pegang mik), Wiwik Jumatul Rofiah. FOTO: IST

SultengTerkini.Com, PALU– Wakil Ketua Komisi I DPRD Sulawesi Tengah (Sulteng), Wiwik Jumatul Rofiah mengatakan, kehadiran Peraturan Daerah (Perda) Nomor 14 Tahun 2019 merupakan harapan untuk membangun ketahanan keluarga.

Hal itu dia sampaikan dalam webinar yang digelar Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Sulteng di aula DPTW, Selasa (27/4/2021).

“Adanya perda ini menjadi bukti bahwa keluarga bukan hanya tanggung jawab di masyarakat lagi, tetapi juga menjadi tanggungjawab pemerintah yang turut andil dalam membuat kebijakan dalam bentuk perda ini,” katanya.

Pada kesempatan itu, Ketua Fraksi PKS DPRD Sulteng itu juga menyosialisasikan pasal-pasal yang perlu digarisbawahi sebagai bentuk dukungan dari perda tersebut untuk membangun ketahanan keluarga, khususnya di Sulteng.

“InsyaAllah sekarang tinggal kita mengawasi penerapan perda ini saja karena isinya sudah memuat tentang perkawinan, perlindungan anak dan KDRT,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPW PKS Sulteng yang turut hadir sebagai pembicara memaparkan terkait tema keluarga kuat, bangsa kuat mengatakan, sesungguhnya pilar utama suatu bangsa adalah keluarga.

“Pilar pertama bangsa adalah masyarakat sementara pilar utama masyarakat adalah keluarga,” kata Wahyuddin.

Menurut Wahyuddin, keluarga merupakan miniatur negara, karena di dalamnya ada kesepakatan bersama, sehingga tidak mungkin ada pernikahan jika tidak ada kesepakatan bersama yang Allah sebut sebagai mitsaqan ghaliza.

“Artinya kalau dalam negara ada undang-undang, begitu juga dalam keluarga. Ada hukum-hukum yang jadi kesepakatan bersama berdasarkan Al Quran hadis serta kesepakatan ulama,” ujarnya.

Demikian halnya disampaikan Ketua MUI Kota Palu, Zainal Abidin. Dia berpendapat bahwa untuk membangun keluarga muslim tangguh membutuhkan kehadiran agama.

“Keluarga punya fungsi utama untuk menjaga anggota keluarganya agar tidak terjerumus ke neraka. Artinya saling melindungi agar tetap berada dalam koridor moral dalam nilai kemanusiaan,” kata mantan Rektor IAIN Palu itu.

Zainal Abidin juga mengungkapkan, modal dalam membangun ketahanan keluarga adalah moral dan keteladanan, sehingga keluarga seharusnya berkontribusi dalam proses edukasi tersebut.

“Penerapan agama itu tidak hanya ritual tapi cara hidup terutama dalam keluarga. Bukan hanya menyuruh salat tapi juga moral,” tuturnya. NUR

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 8 times, 1 visits today)

News Feed