oleh

Polda Sulteng Gerebek Praktik Prostitusi di Dua Home Stay, Ada yang Sedang Threesome

JUMPA pers di Mapolda Sulawesi Tengah terkait kasus prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur di Kota Palu, Selasa (30/3/2021). FOTO: ICHAL/SULTENGTERKINI.COM

SultengTerkini.Com, PALU– Aparat Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulawesi Tengah menggerebek dua home stay karena terdapat praktik prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur.

“Ada dua home stay yang digerebek, lokasinya di Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu,” kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Polisi Didik Supranoto kepada sejumlah jurnalis di mapolda setempat, Selasa (30/3/2021).

Dia menjelaskan, home stay berinisial C di Jalan Basuki Rahmat Palu menjadi target pertama yang didatangi polisi dan dilakukan penggeledahan.

Pemeriksaan di dua kamar home stay itu ditemukan sebanyak 15 muda-mudi dan hasil identifikasi terdapat anak di bawah umur.

Selesai melakukan penggerebekan di Jalan Basuki Rahmat, polisi kembali bergeser di home stay RJ di Jalan Anoa Palu.

Di kamar 05 tim berhasil menemukan tujuh muda-mudi yang beberapa diantara juga anak di bawah umur.

Dari 22 muda-mudi yang diamankan itu kata Didik, tujuh orang berstatus korban masing-masing berinisial AN (16), MR (17), NM (17), BR (14), EE (23), S (19), dan RS (19).

Sementara Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulteng, Kombes Polisi Novia Jaya menambahkan, dalam kasus itu, polisi menetapkan empat orang tersangka yaitu berinisial WS (22), HG (26), VR (17), dan MR (17).

“Tersangkanya juga ada anak-anak, kita tidak tampilkan,” katanya.

Dia mengatakan, para anak di bawah umur yang masih berstatus pelajar ini menjalankan prostitusi awalnya diajak lalu akhirnya sudah menjadi biasa.

“Tidak ada yang ditipu, mereka mau juga,” katanya.

Dia mengungkapkan, dari pengakuannya dalam kasus itu, ada yang bisa melayani delapan dan bahkan 10 pelanggan dalam sehari.

“Mohon maaf ini ada yang sampai melayani delapan, ada juga 10 pelanggan dalam satu hari. Ada juga yang threesome, dua perempuan dan satu laki-laki,” kata mantan Kapolres Parigi Moutong itu.

Dalam penggerebekan di home stay itu, polisi menemukan ada yang sedang berhubungan seks, ada pula lagi mengonsumsi narkoba.

Adapun barang bukti yang disita dalam penggerebekan itu diantaranya beberapa alat kontrasepsi atau kondom, 13 telepon genggam berbagai merek, pisau, pireks, korek, sedotan, dan lain-lain.

Modus yang digunakan para pelaku adalah korban menerima Booking Order (BO) untuk pelayanan jasa prostitusi melalui aplikasi Whats App maupun “Me Chat” dengan tarif dari Rp 300 ribu hingga 1,5 juta.

Kedua, tersangka mencari pelanggan yang korbannya adalah anak-anak untuk BO pelayanan seksual.

Ketika mereka sudah mendapatkan pelanggan dan terjadi transaksi, yang bersangkutan mendapat upah berupa uang dengan jumlah bervariasi.

Dari hasil pelayanan jasa seksual masing-masing korban memberikan tip kepada muncikarinya mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu.

Dia menjelaskan, korban terpaksa melakukan prostitusi dikarenakan terhimpit permasalahan ekonomi, kurang perhatian orang dan ada masalah di keluarganya.

“Akibat perbuatan itu, ada satu yang terkena HIV, satu lagi hamil,” tutur orang pertama di Ditreskrimum Polda Sulteng itu.

Dari empat orang yang ditetapkan tersangka, dua diantaranya ditahan, dua lainnya tidak, karena anak di bawah umur.

Novia menuturkan, praktik prostitusi online yang dijalankan para tersangka sudah berjalan selama tiga bulan.

“Kasus ini masih terus kita dalami. Kami juga melibatkan instansi terkait dalam penanganan kasus ini,” katanya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 88 Jo pasal 76 huruf (i) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 296 KUHPidana, diancam dengan pidana penjara maksimal 10 tahun dan maksimal Rp 200 juta. HAL

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 240 times, 1 visits today)

News Feed