oleh

Pantau Penanganan Covid-19 di Sulteng, Kepala BNPB: 3M Jangan Sampai Kendor!

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana RI Letjen TNI Doni Monardo berkesempatan hadir di Sulawesi Tengah dalam rangka koordinasi penanganan bencana nonalam Covid-19 dan percepatan rehab-rekon pascabencana 28 September 2018 di ruang Polibu kantor gubernur, Selasa (10/11/2020). FOTO: HUMAS

SultengTerkini.Com, PALU– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI Letjen TNI Doni Monardo berkesempatan hadir di Sulawesi Tengah  (Sulteng) dalam rangka koordinasi penanganan bencana nonalam Covid-19 dan percepatan rehab-rekon pascabencana 28 September 2018 di ruang Polibu kantor gubernur, Selasa (10/11/2020).

Kegiatan itu dihadiri baik secara langsung maupun virtual oleh unsur-unsur pejabat utama BNPB, gugus tugas nasional, forum komunikasi pimpinan  daerah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota se Sulteng.

Gubernur yang diwakili Wakil gubernur Rusli Dg Palabbi menyampaikan poin-poin kebijakan penanganan pandemi yang telah ditempuh pemerintah provinsi melalui gugus tugas.

Dalam laporan itu, wagub menuturkan, jumlah kasus positif sebanyak 1.047 dan tidak ada penambahan baru kemarin.

Untuk kesembuhan pasien mencapai 73,45% atau setara 769; mortalitas (kematian) 4,01% atau setara 236 dan jumlah sampel dalam proses lab sebanyak 127.

“Data tersebut menunjukkan bahwa Provinsi Sulawesi Tengah sebagai daerah dengan kasus penyebaran terendah secara nasional dengan urutan ke 31 dari 34 provinsi,” ungkapnya.

Untuk penanganan wabah katanya, Sulteng memiliki enam rumah sakit rujukan Covid-19, tiga alat PCR, alat pelindung diri, obat-obatan, dan ketersediaan tenaga medis yang memadai di 13 kabupaten/kota.

Adapun permasalahan yang dihadapi, wagub mengatakan, ada empat poin yang belum optimal yaitu edukasi ke masyarakat, penertiban di tempat-tempat keramaian, tracking di kabupaten/kota dan kepatuhan protokol kesehatan 3M.

Sedangkan beberapa item medis yang masih kurang kata wagub meliputi reagen PCR, baju hazmat, handscoon steril dan nonsteril, masker, faceshield, dan lain-lain.

Pandemi Covid-19 juga diakuinya turut berdampak terhadap proses rehab-rekon pascabencana, sehingga dikhawatirkan meleset dari tenggat waktu 31 Desember 2020 sesuai keputusan Inpres 10 Tahun 2018.

“Kami berharap semoga dari koordinasi dan pembahasan ini dapat menghasilkan sejumlah rekomendasi penting,” lanjutnya.

Walaupun jumlah kasus tergolong rendah secara nasional, akan tetapi dari pantauan sistem realtime penerapan protokol kesehatan BNPB, ditemukan fakta bahwa tingkat kepatuhan masyarakat Sulteng memakai masker baru 78 % dan kepatuhan jaga jarak 75%.

Kurang patuhnya masyarakat memakai masker banyak ditemukan di tempat-tempat publik seperti perumahan, restoran, pasar dan pusat wisata sedangkan jaga jarak banyak terjadi di tempat olahraga.

Olehnya jenderal bintang tiga ini berpesan supaya penerapan protokol kesehatan 3M sebagai vaksin terbaik sampai saat ini jangan sampai kendor.

“Upaya pencegahan harus jadi prioritas komponen bangsa. Oleh karenanya kita semua harus kerja keras untuk memutus mata rantai dengan pencegahan,” tegas kepala BNPB.

Selain itu pemeriksaan spesimen lab juga diharapnya dapat lebih dipercepat, sehingga pasien positif jadi lebih cepat diisolasi dan ditangani.

“Semakin cepat penanganan, maka semakin tinggi kesembuhan,” tuturnya.

Terkait permasalahan rehab-rekon, Kepala BNPB mengusulkan supaya pemerintah provinsi membuat usulan perpanjangan tahapan rehab-rekon kepada presiden.

“Segera diusulkan ke pemerintah pusat, sehingga kami (BNPB) bisa melakukan percepatan-percepatan,” pungkasnya.

Di akhir pertemuan, Kepala BNPB secara simbolis memasangkan rompi BNPB kepada wagub sekaligus menyerahkan bantuan alkes, serta tanaman vetiver untuk mitigasi bencana kepada Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf. CAL

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 36 times, 1 visits today)

News Feed