oleh

Sejarah Brompton, Sepeda Lipat Puluhan Juta Rupiah

SELAIN bentuknya yang unik, sepeda lipat itu banyak diperbincangkan karena harganya yang fantastis. Satu unit sepeda Brompton bisa dihargai puluhan juta rupiah.(iStockphoto/Vudhikul Ocharoen)

SultengTerkini.Com, JAKARTA– Ratusan sepeda bahkan lebih meluncur di sejumlah ruas jalan Jakarta beberapa pekan terakhir ketika pandemi Covid-19. Dari sekian banyak merek, Brompton adalah salah satu merek sepeda yang cukup menyita perhatian.

Selain bentuknya unik, sepeda lipat itu banyak diperbincangkan karena harganya yang fantastis. Satu unit sepeda Brompton bisa dihargai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Mahalnya sepeda Brompton mungkin terkait dengan sejarah dan cara pembuatannya.

Melansir bike radar, ide membuat sepeda lipat Brompton pertama kali berasal dari sebuah flat milik Andrew Ritchie yang berada di Kensington, London utara pada tahun 1975. Sedangkan nama Brompton diambil dari gereja Katolik Oratory Brompton yang berada di seberang jendela kamar Ritchie.

Brompton bukan merupakan sepeda lipat pertama di Inggris. Bickerton, perusahaan tempat anyar Ritchie berinvestasi merupakan perusahaan pertama yang membuat sepeda lipat di Inggris kala itu.

Namun, sepeda lipat buatan Bickerton dinilai tidak memiliki desain yang sederhana seperti Brompton.

“Inspirasinya diambil dari Bickerton. Meskipun Brompton modern terlihat sangat berbeda, yang menyatukan mereka adalah roda belakang yang bisa dilipat di bawah sepeda,” kata manajer merek global Brompton Ross Hawkins.

Sejak didesain pada tahun 1977, sepeda lipat Bromton tidak mengalami banyak perubahan hingga saat ini. Perubahan hanya terletak pada komponen karena mengikuti perkembangan zaman.

Hawkin mengatakan Ritchie tidak pernah berpikir sepeda lipat Brompton bisa diproduksi. Kala itu, dia hanya berencana melisensikan desain tersebut kepada salah satu perusahaan sepeda tertua di dunia yang berbasis di Nottingham, yakni Raleigh.

“Tanggapan yang didapatnya adalah bahwa meskipun idenya menarik, pabrikan tidak yakin ada pasar atau idenya dapat diskalakan,” ujarnya.

Mendengar tanggapan itu, Ritchie tak patah arang. Dia lantas melakukan crowdfunding. Caranya unik, dia menghampiri dan meminta 100 temannya untuk membeli sepeda lipat yang akan diproduksinya.

Dia menjanjikan sepeda lipat dikirim dalam waktu enam bulan setelah. Selain itu, dia juga menjanjikan pengembalian uang secara utuh jika berhasil. Dengan kata lain, 100 temannya menerima sepeda secara gratis.

“Produksi pertama dilakukan tahun 1980. Dia membuatnya, mengirimkannya, dan mampu membayar kembali pada 1993. Jadi itu berhasil, tapi butuh beberapa saat,” ujar Hawkin.

Prototipe pertama diproduksi oleh Ritchie di atas meja dapurnya. Kemudian, prototipe itu diperbanyak sebuah pabrik di Chiswick Park, London barat.

Di pabrik, proses pembuatan prototipe Brompton oleh Ritchie juga dilakukan oleh para pekerja, mulai dari mematri satu per satu bagian. Sehingga, butuh waktu yang lebih lama untuk menciptakan satu unit sepeda lipat Brompton.

Melansir laman resmi,  desain pertama sepeda lipat Brompton pertama cukup kasar, tetapi dapat dilipat dengan rapi dan nyaman menjadi satu paket kecil. Kala itu, desain sepeda Brompton dianggap sebagai langkah maju dalam desain sepeda lipat.

Beberapa tahun setelah diproduksi dan dijual, Brompton dianugerahi Penghargaan Produk Terbaik yang dalam acara Cyclex yang diadakan di Olympia, London. Brompton juga menerima Queen’s Award for Export Achievement dari Kerajaan Inggris.

Pada 2006, Balapan Kejuaraan Dunia Brompton untuk pertama kalinya diadakan di Barcelona. Sedangkan toko Brompton Junction pertama dibuka di Kobe, Jepang pada tahun 2011.

Melansir Dr.Cycle, sepeda lipat, termasuk Brompton memiliki ban yang jauh lebih kecil daripada sepeda konvensional. Sehingga, stabilitas sepeda itu tidak akan maksimal ketika benturan dan jalan berlubang.

Selanjutnya, ukuran ban yang kecil juga membuat pengendara Brompton mudah lelah ketika menempuh perjalanan jauh. Sepeda lipat itu dinilai lebih cocok untuk digunakan dalam jarak yang relatif dekat atau menegah.

Sepeda lipat umumnya juga lebih mahal daripada sepeda konvensional. Hal itu terkait dengan desain hingga bahan yang digunakan oleh setiap jenis sepeda lipat. Sehingga, banyak pihak yang berusa menyelundupkan sepeda itu agar tidak terkena pajak.

Salah satu kasus penyelundupan sepeda Brompton yang paling diingat melibatkan mantan Direktur Utama Garuda Ari Askara. Dia secara sengaja membawa dua unit sepeda Brompton senilai seratusan juta rupiah ke dalam pesawat yang Garuda dari luar negeri.

Beberapa waktu lalu, warganet mendadak heboh dengan informasi sepeda Brompton curian yang dijual online di Indonesia. Informasi ini diperoleh berdasarkan surat elektronik produsen kepada komunitas pengguna Brompton.

Pada akun Facebook Brompton Owners Group Indonesia diposting mengenai kasus tersebut. Menurut pengunggah, surat ini merupakan keterangan resmi produsen Brompton.

Produsen mengatakan sepeda ini diluncurkan pada April dengan jumlah 1.000 unit. Sepeda bukan untuk diperjual-belikan, melainkan sebagai donasi kepada tenaga medis selama pandemi wabah corona (Covid-19) di Inggris.

(sumber: cnnindonesia.com)

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 13 times, 1 visits today)

News Feed