oleh

Polda Sulteng Sita 551 Karung Pupuk Palsu

KAPOLDA Sulawesi Tengah Irjen Polisi Syafril Nursal menunjukkan barang bukti ratusan pupuk palsu. FOTO: ICHAL/SULTENGTERKINI.COM

SultengTerkini.Com, PALU– Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi stabilitas ekonomi bangsa Indonesia, sehingga pemerintah menginstruksikan kepada seluruh stakeholder terkait untuk ikut mendukung dan menjaga stabilitas ketahanan pangan di daerah.

Apa yang dilakukan dua warga Kota Palu ini berbanding terbalik. Alih-alih mendukung peningkatan produksi hasil tanam petani, tetapi yang dilakukan justru menurunkan hasil produksi tanaman karena terjadi penurunan kualitas akibat memperdagangkan pupuk ilegal atau palsu.

Hal itu disampaikan Kapolda Sulteng Irjen Polisi Syafril Nursal saat jumpa pers terkait kasus pengungkapan pupuk palsu.

Dia mengatakan, pada April dan Mei 2020 tim Subdit I/Indag Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulteng menangkap dua orang pelaku yang melakukan dugaan tindak pidana di bidang sistem budidaya pertanian berkelanjutan dan/atau perlindungan konsumen” dengan cara mengedarkan dan/atau memperdagangkan pupuk palsu.

Dimana pupuk tanpa merek yang didatangkan pelaku dari wilayah Jawa Timur, oleh pelaku kemudian dikemas atau dimasukkan di dalam karung yang bertuliskan pupuk pertanian dan perkebunan NPK 15-15-15 Niposca dan kemasan atau karung bertuliskan pupuk pertanian dan perkebunan NPK 16 Bintang sawit.

“Pelakunya berinisial RD (45), warga Kelurahan Baru Kecamatan Palu Barat, Kota Palu dan ZN (46), warga Kelurahan Taipa Kecamatan Palu Utara,” sebut Kapolda Syafril.

Dari kedua pelaku telah diamankan pupuk ilegal sebanyak 551 karung dan 54 lembar karung kosong bertuliskan pupuk pertanian dan perkebunan NPK 15-15-15 Niposca.

Isi kandungan kedua jenis pupuk tidak sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia), dimana hasil pengujian terhadap barang bukti dari laboratorium pupuk yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan nilai prosentase jauh di bawah standar yang ditentukan.

Pelaku RD memperdagangkan kedua pupuk tersebut memperoleh keuntungan Rp 15.000 per karung, sementara ZN memperoleh keuntungan Rp 20.000 per karung.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal 122 junto Pasal 73 Undang-Undang (UU) RI Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp 3 miliar.

Selain itu juga ada Pasal 62 ayat (1) junto Pasal 8 ayat (1) huruf (a), huruf (e) dan huruf (g), ayat (4) UU RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2 miliar. CAL

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 55 times, 1 visits today)

News Feed