oleh

Bawaslu Sulteng Beberkan Sejumlah Masalah Daftar Pemilih

ANGGOTA Bawaslu Sulteng Divisi Pengawasan, Sutarmin. FOTO: DOK SULTENGTERKINI.COM

SultengTerkini.Com, PALU– Pihak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Tengah (Sulteng) membeberkan sejumlah permasalahan daftar pemilih untuk pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang akan berlangsung 9 Desember 2020.

Anggota Bawaslu Sulteng Divisi Pengawasan, Sutarmin menyebutkan, ada dua sumber daftar pemilih yang dicoklit oleh petugas pemutakhiran data pemilih atau PPDP untuk pilkada 2020.

Pertama DPT Pemilihan Presiden tahun 2019 dan Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4) dari Kemendagri.

Dia menjelaskan, dari hasil pengawasan proses pencocokan dan penelitian daftar pemilih, masih banyak pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) pilpres tahun 2019 tidak masuk dalam DP4 untuk pilkada serentak tahun 2020.

“Tidak usah jauh-jauh, di Bawaslu provinsi ini banyak staf kami yang kemarin (pilpres 2019) memilih sekarang dicoklit namanya tidak ada dalam DP4,” ungkap Sutarmin kepada SultengTerkini.Com, Kamis (22/7/2020).

Selain itu kata Sutarmin, masih banyak pemilih yang tidak tercatat dalam DPT. Begitu pula sebaliknya ada pemilih yang sudah meninggal justru namanya masuk dalam DPT.

Selain itu NIK invalid juga masih menjadi persoalan.

“Contohnya saya punya om yang di Parigi sana meninggal tahun 1997, tetapi sampai hari ini namanya masih ada muncul di DPT,” bebernya.

Menurut Sutarmin, DPT masih menjadi momok pesta demokrasi khususnya di Sulteng. Tidak jarang permasalahan DPT dijadikan alasan para peserta pemilu meminta pengulangan pemungutan suara uang.

Dia mencontohkan kasus pemungutan suara ulang (PSU) yang terjadi di TPS 1, Desa Bolobia, Kabupaten Sigi tahun 2019.

Saat itu Bawaslu menemukan 80 persen DPT PSU bermasalah. Rata-rata elemen data daftar pemilih seperti nama, tempat dan tanggal lahir, alamat tempat tinggal dan agama tidak sesuai.

“Kami membantu KPU melakukan coklit kembali untuk memperbaiki DPT pada saat itu. Kenapa kami tahu karena satu pekan sebelum PSU kami sudah dilapangan. Itu salah satu contohnya bahwa DPT masih bermasalah,” katanya.

Selanjutnya Sutarmin juga menilai Sistem Daftar Pemilih (Sidalih) yang digunakan KPU untuk menginput DPT belum mampu menyelesaikan persoalan DPT ganda. Begitu pula pemilih yang sudah meninggal dunia.

“Salah satu problemnya ketika PPDP mencoret yang sudah meninggal, tapi pada saat data-data itu diinput oleh operator ke dalam Sidalih nama yang sudah dicoret muncul lagi dalam Sidalih,” ujarnya. NUR

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 30 times, 1 visits today)

News Feed