oleh

Dua Wanita Tangguh di Palu Ini Berjuang Sendiri Hidupi Keluarga

Nurmin

SultengTerkini.Com, PALU– Kini semakin banyak wanita sebagai sumber nafkah utama karena menjadi tulang punggung keluarga. Banyak penyebab hal itu bisa terjadi, salah satunya akibat bercerai atau sang suami meninggal dunia.

Memang tidak dipungkiri lagi, menjadi single parent adalah hal yang cukup sulit bagi beberapa wanita di Indonesia, tak terkecuali di Sulawesi Tengah (Sulteng). Sebab mereka setiap harinya harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Diantaranya dua sosok single mother itu ialah Nurmin (56) dan Yuliana (46). Keduanya saat ini merintis usaha kecilnya di Kota Palu.

Mereka tidak hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, akan tetapi juga merangkap sebagai kepala keluarga. Mereka menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Nurmin, sudah selama enam tahun berjuang sendiri tanpa sang suami yang meninggal enam tahun lalu. Nurmin hingga saat ini masih terus berjualan seadanya meski kerap kekurangan modal.

Untuk mendapatkan modal usaha kecilnya itu, dia terpaksa bekerja dalam program padat karya yang tiap bulannya digaji sebesar Rp 250 per bulan.

Tenaga serta semangatnya tak berkurang sedikitpun meski sudah lanjut usia.

“Alhamduillah, setiap harinya berjualan Rp 100 ribu per hari kadang tidak ada pembeli sama sekali,” ujar Nurmin kepada relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Meskipun Nurmin tidak terdampak langsung oleh bencana likuefaksi di Kelurahan Balaroa, Kota Palu, namun tempat tinggalnya juga merupakan jalur perlintasan patahan Palu Koro, sehingga bencana 2018 silam itu sangat berdampak terhadap keluarganya.

Meski berada di bawah garis kemiskinan, ibu dua orang anak ini enggan untuk meminta atau meminjam ke lembaga simpan pinjam modal usaha seperti koperasi untuk kebutuhan sehari-hari.

Dia lebih memilih mendapatkan uang dari hasil keringatnya sendiri.

“Saya tidak mau pinjam uang di koperasi karena bunganya tinggi. Setiap hari musti dicicil Rp 50 ribu, belum lagi misalnya sehari jualan tidak laku berarti kita tetap ditagih, jadi untuk belanja keperluan dapur dan isi warung saya berharap uang dari hasil kerja padat karya, seperti bayar listrik dan lain-lain,” jelas Nurmin.

Nurmin harus mendapatkan rupiah demi rupiah. Sebab saat ini satu anaknya belum mendapatkan kerjaan tetap. Sementara satu anaknya lagi sudah berumah tangga.

Apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, kondisi ekonominya semakin terpuruk karena tidak bisa beraktivitas, sehingga hasil dari jualannya terus berkurang.

“Karena tidak bisa kemana-mana saya, cuma makan, dengan isi warung dikurangi seperti mi instan beras dan lain-lain. Sekarang saja isi warung hanya seperti ini kondisinya tetap sedikit, meskipun begini yang penting bisa makanlah, itu saja,” tuturnya.

Yuliana

Begitu juga dengan Yuliana. Dia setiap harinya menjual premium dan pertalite eceran yang dijualnya Rp 10 ribu per botol.

Meski hanya Rp 30 ribu pendapatan dalam seharinya, dia mengaku bersyukur masih diberikan rezeki.

“Alhamdulillah, biasanya kadang sama sekali tidak ada yang laku,” katanya.

Menjadi seorang penjual bahan bakar kendaraan kata dia, pendapatannya tidak menentu karena berjualan berdekatan dengan Pertamina.

Dia hanya berharap kurangnya pasokan baru ke Pertamina tersebut.

“Kalau kurang pasokan ke Pertamina, otomatis pendapatan kami banyak karena jelas orang-orang mengisi bahan bakar eceran,” akunya.

Menjadi tulang punggung keluarga, memang terasa berat kata Yuliana. Hanya saja nasib yang telah ditakdirkan kepadanya harus dijalaninya dengan ikhlas dan terus berusaha memperbaiki ekonomi keluarga.

“Saya sudah tidak ada suami belum lagi biaya anak-anak bersekolah, begitulah hidup, mau tidak mau harus disyukuri,” tuturnya.

Di Sulteng sendiri, tim ACT hampir setiap harinya menyalurkan sedekah modal usaha kepada para perempuan pelaku usaha ultra mikro.

Aksi ini merupakan bagian dari usaha ACT dalam penanganan dampak Covid-19 yang juga menyerang perekonomian masyarakat prasejahtera.

Harapannya, melalui program ini, usaha mikro dapat terus bertahan dan membaik.

Dengan adanya program Sahabat UMI ini diharapkan mampu menjadi penyemangat tersendiri bagi para ibu yang menghidupkan ekonomi keluarga di saat pandemi. CAL

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 50 times, 1 visits today)

News Feed