oleh

Bangun Sumur Wakaf, Solusi Kekeringan Pascagempa di Sulteng

PEMBANGUNAN sumur pertanian di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. FOTO: ACT

SultengTerkini.Com, SIGI– Kekeringan akibat rusaknya irigasi Gumbasa masih melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Hingga saat ini, kekeringan masih dirasakan warga sejak pascagempa 28 September 2019 silam, khususnya di sektor pertanian.

Meski irigasi Gumbasa mulai berfungsi sejak awal tahun 2020 melalui proses rehabilitasi, namun belum mampu mengairi sebagian besar wilayah yang mengalami kekeringan.

Pasalnya, dari 8.000 hektare lahan sawah yang kering, saat ini baru menjangkau 1.010 hektare.

Namun saat ini, warga khususnya para petani yang dilintasi jaringan Sungai Gumbasa tersebut boleh bernafas lega.

Sebab, kebutuhan warga akan air segera terpenuhi melalui sumur wakaf yang dibangun oleh lembaga kemanusiaan global Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulteng bersama mitra donatur.

Sumur ini bakal menjadi solusi terbaik menanggulangi kekeringan dan darurat air bersih yang melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Sigi, khususnya bagi para petani.

Kepala Cabang ACT Sulteng, Nurmarjani Loulembah, Sabtu (6/6/2020) mengatakan, saat ini ACT Sulteng memfokuskan pembangunan sumur wakaf di wilayah Kabupaten Sigi. Sebab, ribuan hektare sawah di wilayah itu kekeringan karena jaringan irigasi rusak akibat gempa.

Sumur yang dibangun, ada beberapa tipe yaitu Sumur Wakaf Produktif untuk pertanian, Sumur Wakaf Family untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga dan Sumur Wakat yang dibangun lengkap dengan MCK dan tempat wudhu.

“Untuk Sumur Wakaf Pertanian, dibangun di lahan-lahan pertanian milik warga, diharapkan sumur ini bisa memproduksi kembali lahan pertaniannya,” katanya.

Wanita yang akrab disapa Nani ini menjelaskan, satu sumur akan digunakan oleh beberapa petani yang tergabung dalam kelompok tani.

Pasalnya, dalam program Sumur Wakaf ini, ACT Sulteng melibatkan kelompok-kelompok tani yang ada di masyarakat.

“Untuk tipe sumur pertanian ini ada sumur dalam dan dangkal, karena masing-masing wilayah kedalaman mendapatkan air itu beda-beda,” katanya.

Saat ini sudah 40 sumur yang berfungsi, menjangkau beberapa desa di Kecamatan Dolo yaitu Desa Karawana, Potoya, Solowe, Sibalaya, Sidondo, Sibowi dan Maranata.

Ada juga yang dibangun ACT bersama mitra dari Jepang di Desa Maranata 13 titik, Sibowi lima titik dan Sidondo delapan titik.

Selain sumur wakaf produktif kata Nani, ACT juga membangun sumur Wakaf Family sebanyak 10 titik di Desa Karawana, bahkan sudah dimanfaatkan.

Saat ini, yang masih dalam proses pembangunan sebanyak 25 titik. 15 titik di Desa Salowe, 10 di Desa Potoya.

Begitu juga Sumur Wakaf lengkap dengan MCK dan tempat wudhu. ACT membangun sebanyak 12 titik yaitu di Desa Toaya, Kabupaten Donggala, Duyu dan petobo (Kota Palu), Singora (Parigi Moutong), Loru, Jonooge, Maranata, Padende, Salowe, Bora (Kabupaten Sigi).

Dari hasil asesmen di lapangan oleh tim ACT Sulteng, saat ini sebanyak delapan desa lagi yang masih membutuhkan Sumur Wakaf, semuanya merupakan wilayah perlintasan jaringan sungai Gumbasa. CAL

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 47 times, 1 visits today)

News Feed