oleh

Kasus Kekerasan Perempuan di Sulteng Tinggi, 2016-2019 Capai 2.553 Kasus

DISKUSI tentang kekerasan perempuan dibahas saat peringatan Hari Perempuan Internasional oleh Perkumpulan Lingkar Belajar Untuk Perempuan Sulawesi Tengah, Senin (9/3/2020). FOTO: ROIN/SULTENGTERKINI.COM

SultengTerkini.Com, PALU– Perkumpulan Lingkar Belajar Untuk (LiBu) Perempuan Sulawesi Tengah (Sulteng) memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’S Day (IWD) tingkat Provinsi Sulteng tahun 2020 dengan menggelar diskusi bertajuk “Membangun Sinergi dan Kolaborasi Perlindungan Perempuan dan Anak yang Berkelanjutan di Sulawesi Tengah”.

Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel Jalan Abdurrahman Saleh, Kota Palu pada Senin (9/3/2020) itu diikuti sekitar 100 peserta dari perwakilan berbagai elemen seperti NGO, tokoh agama, adat, jurnalis, dan organisasi perangkat daerah teknis terkait.

Diskusi membahas terkait kebijakan pembangunan daerah yang bersinergi dalam perlindungan perempuan dan anak yang terintegrasi dan berkelanjutan di Sulteng.

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sulteng, sebanyak 2.553 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi dalam kurun waktu 2016 hingga 2019.

Kasus kekerasan terhadap perempuan di Sulteng, meliputi kasus kekerasan fisik, psikis, seksual, perdagangan orang, penelantaran, ekploitasi dan sebab lainnya.

“Fakta yang menarik kekerasan terhadap perempuan sering terjadi di lingkungan rumah tangga atau yang lebih kita kenal dengan KDRT, yaitu kurang lebih 48,8 persen dari total kasus kekerasan terhadap perempuan,” kata Gubernur Sulteng Longki Djanggola dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra, Faizal Mang.

“Saya harapkan dapat mendorong kesadaran dan partisipasi semua elemen dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendukung dan mengimplementasikan program-program yang berorientasi pada kemajuan perempuan dan anak,” ujarnya menambahkan.

Dia mengatakan, program-program harus sejalan dengan gerakan three ends, yakni akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia, dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan.

Pada kesempatan itu pula, dia meminta pelibatan semua elemen untuk mencegah kekerasan, memperbaiki sistem pelaporan dan layanan pengaduan serta menyediakan sarana rehabilitasi dan reintegrasi sosial supaya penanganan kasus-kasus kekerasan bisa dilakukan secara cepat, terintegrasi, dan komprehensif.

Jika perempuan adalah tiang negara maka mulai saat ini, dia mengajak semua elemen untuk menguatkan peran serta perempuan supaya bangsa dan negara ini khususnya daerah Sulteng bertumbuh lebih maju, mandiri, dan berdaya saing.

Sementara Direktur LiBu Perempuan Sulteng, Dewi Rana mengatakan, perkara sejak lama bahwa wanita dan pria memiliki kesenjangan sosial yang berbeda, hak-hak wanita dalam kehidupan bersosial, lingkungan kerja hingga berkeluarga seringkali dianggap tidak “sebebas” kaum pria.

Dia pun berharap melalui diskusi ini dapat mendorong kesadaran dan partisipasi semua elemen, pemangku kepentingan untuk sama-sama mendukung implementasi program-program yang berorientasi bagi pemajuan perempuan dan anak Sulteng.

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, Kepala Bappeda Sulteng Hasanuddin Atjo, Kepala DP3A Sulteng Ihsan Basir, Wakil Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita Sulteng Sitti Norma Mardjanu, dan dr Nisbah mewakili akademisi. ROI

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 38 times, 1 visits today)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed