Polres Sigi Tetapkan 10 Tersangka Pembakaran dan Perusakan Lapas Perempuan, Dua DPO

292
WhatsApp Image 2019-10-08 at 12.21.04
INILAH delapan dari 10 tersangka pembakaran dan perusakan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas III Palu di Desa Maku, Kecamatan Dolo saat jumpa pers di Mapolres Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (8/10/2019). FOTO: ICHAL

SultengTerkini.Com, SIGI– Aparat Polres Sigi di Sulawesi Tengah akhirnya menetapkan tersangka pembakaran dan perusakan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Klas III Palu di Desa Maku, Kecamatan Dolo.

“Tersangka pembakaran dan perusakan Lapas Perempuan berjumlah 10 orang, yang tertangkap delapan orang, dua orang masih DPO (daftar pencarian orang),” kata Kapolres Sigi AKBP Wawan Sumantri kepada sejumlah jurnalis di mapolres setempat, Selasa (8/10/2019).

Kapolres Wawan Sumantri menyebutkan, delapan tersangka yang sudah tertangkap itu yakni Rosmani, Atriwenda binti Arsad Abdul alias Wenda, Elisda Tamalanga binti Agus alias Elis, Tenri Sanna binti Sulaeman alias Tenri, Ruhena binti Ruben alias Erna, Siti Hadija, Farida Ariani alias Ida, dan Diana Tangkudung.

Sedangkan dua tersangka lainnya yang masih dalam pengejaran aparat diketahui bernama Mona dan Maslia.

Dia mengatakan, penetapan para tersangka itu berdasarkan dua alat bukti yang cukup setelah sebelumnya memeriksa sebanyak 50 orang saksi dan mengumpulkan barang bukti.

50 orang saksi yang diperiksa itu masing-masing 43 orang narapidana, dan tujuh petugas lapas.

Berdasarkan hasil penyidikan tersebut, polisi menemukan fakta bahwa upaya perencanaan melarikan diri dengan cara membakar dan merusak sel ini telah direncanakan sejak Jumat (20/9/2019) dengan beberapa kali melakukan pertemuan yang dimotori oleh DPO Mona untuk memancing petugas jaga membuka pintu sebagai akses untuk melarikan diri.

Usaha ini pertama dilakukan pada Sabtu (22/9/2019) sekira jam 22.00 Wita, dimana Tenri Sanna ditugaskan memancing keributan dengan cara membakar selendang yang dililitkan di kipas angin namun usaha ini gagal karena apinya keburu dipadamkan oleh rekannya sesama narapidana.

Kemudian usaha ini kembali direncanakan oleh Mona dengan kembali melakukan beberapa kali pertemuan yang kali ini lebih konkret dengan pembagian tugas lebih jelas dan matang.

Dimana masing-masing orang memiliki tugas dan perannya, lalu pada Ahad (29/9/2019) sekira jam 16.00 Wita rencana ini mulai dilakukan.

Sebelum pintu sel ditutup oleh petugas jaga, Lisda keluar dari blok untuk merusak mesin air dengan menggunakan martil, sementara Farida dan Tantri berpura-pura sakit untuk memancing agar petugas jaga datang menengok dengan tujuan agar pintu blok terbuka.

Sekira jam 18.00 Wita, Elis, Wenda, dan Erna mulai membakar sel, sehingga situasi mulai kacau, dan kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tenri untuk merampas alat komunikasi handy talky (HT) petugas jaga.

Kemudian Siti Hadija, Farida, dan DPO Maslia juga melakukan pembakaran, sehingga situasi semakin tidak terkendali dan para napi mulai berlarian keluar blok dan kabur setelah membongkar pintu terali besi yang merupakan pintu akses keluar masuk mobil.

Sementara itu tersangka Wenda dan Erna menerobos melarikan diri melalui pintu depan dibantu oleh para napi lainnya.

WhatsApp Image 2019-10-08 at 12.51.47“Dari 10 tersangka itu, dua diantaranya adalah otak atau dalang dari kasus pembakaran dan perusakan lapas yakni Mona dan Tenri,” kata Kapolres Wawan Sumantri yang didampingi Wakapolres Sigi, Kompol Paulus Morik itu.

Selain menetapkan 10 tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang buktinya yakni satu buah HT, satu kipas angina dan satu baskom hijau yang terbakar.

Wawan mengungkapkan, motif dari pembakaran dan perusakan tersebut agar para napi memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari Lapas Perempuan.

Selain itu juga adanya tuntutan dari sebagian napi yang hendak meminta remisi gempa yang dijanjikan, akan tetapi hingga saat ini belum terealisasi serta adanya ketidaksenangan sebagian napi atas sikap tegas dari kepala lapas dan para petugas lapas.

Sementara modus dari para napi dan tahanan adalah membuat kekacauan dalam blok dengan cara membakar sel, sehingga petugas jaga membuka pintu sebagai akses keluar untuk melarikan diri.

“Para tersangka ini dijerat dengan pasal 187 ayat (1) KUHP sub pasal 187 ter KUHP dan Pasal 170 ayat (1) KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun,” tegas orang pertama di Polres Sigi itu. CAL

Silakan komentar disini...
loading...