Gubernur Sulteng: Pemerintah Terus Berusaha Pulihkan Kondisi Korban Terdampak Bencana

204
WhatsApp Image 2019-09-02 at 14.50.58
GUBERNUR Sulawesi Tengah Longki Djanggola melakukan siaran langsung melalui Program 1 RRI, Frekuensi 90.8 FM atau melalui RRIplaygo bertempat Studio 1 RRI Palu, Ahad (1/9/2019). FOTO: HUMAS

SultengTerkini.Com, PALU– Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Longki Djanggola didampingi Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Elim Somba bersama Pakar Kebencanaan Universitas Tadulako, Abdullah melakukan siaran langsung melalui Program 1 RRI, Frekuensi 90.8 FM atau melalui RRIplaygo bertempat Studio 1 RRI Palu, Ahad (1/9/2019).
Siaran langsung dan dialog dengan pemirsa Gubernur Sulteng Longki Djanggola, Pakar Kebencanaan Untad Abdullah, Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Elim Somba merupakan program baru RRI Palu yang disiarkan secara nasional dimana program tersebut “kentongan” dalam peningkatan mitigasi bencana dan setiap hari akan tayang pukul 20.20 Wita.

Kepala RRI Palu Zakral Mutzain menyampaikan program RRI “Kentongan” yang tanyang secara live setiap hari pukul 20.20 Wita diharapkan dapat memberikan informasi yang sangat berharga kepada masyarakat Sulteng dan nasional dapat mengetahui, sadar serta paham bagaimana menyelamatkan diri kalau terjadi bencana atau musibah dan menjadikan alat tradisional “Kentongan” sebagai peringatan dini.

Gubernur Longki Djanggola mengapresiasi program yang digagas RRI palu untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat bilamana suatu saat terjadinya bencana apalagi daerah Sulteng atas hasil kajian para pakar memiliki potensi bencana.

Gubernur menyampaikan bilamana melihat kejadian bencana yang terjadi pada 28 September 2018 silam menjadi pembelajaran berharga buat masyarakat di wilayahnya, Indonesia dan dunia, bahwa SOP mitigasi seolah-olah tidak berlaku dengan terjadinya likuefaksi dan tsunami.

“Kalau dulu dianjurkan kepada kita kalau terjadi gempa bumi agar berlindung di bawah meja atau ke tempat terbuka, tetapi hal tersebut terbantahkan dengan terjadinya likuefaksi di Balaroa, Petobo dan Jono Oge,” katanya.

Karena menurutnya, pada lapangan terbuka, tanahnya terbelah dan langsung menyedot, ada yang disebut tanah bergerak seperti diblender, ada juga tanahnya yang jadi lumpur dan mengalir, sehingga sangat menyusahkan orang untuk menyelamatkan diri.

Dia juga menyampaikan kejadian tsunami yang terjadi sangat aneh. Kalau teori tsunami menegaskan, setelah terjadi gempa bumi ada jeda 10 sampai 15 menit baru terjadi tsunami atau air laut naik, tetapi kejadian di Palu terjadi gempa bumi dua menit langsung terjadi tsunami jadi tidak ada jeda masyarakat untuk menyelamatkan diri, sehingga melalui kejadian tersebut diharapkan perlu ada mitigasi bencana baru untuk disampaikan kepada masyarakat.

Untuk itu diharapkan RRI Palu terus meningkatkan program mitigasi bencana ini dengan mengundang para pakar kebencanaan.

Gubernur pada kesempatan itu juga meminta kepada masyarakat agar tidak saling menyalahkan karena bencana merupakan takdir dari Allah SWT.

Pemerintah daerah akan terus berusaha untuk melakukan pemulihan kondisi masyarakat terdampak bencana.

“Yakinlah pemerintah akan terus hadir di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Abdullah, Pakar Kebencanaan Universitas Tadulako mengatakan, sistem mitigasi bencana Kota Palu awalnya merupakan sistem mitigasi bencana terbaik di Indonesia.

Karena Pemerintah Pusat pernah menyerahkan piagam penghargaan kepada Pemerintah Kota Palu terkait dengan hal tersebut.

Abdullah menuturkan, musibah 28 September 2018 merupakan musibah yang tidak hanya soal gempa bumi, tsunami dan likuefaksi, tetapi masih ada bencana lainnya seperti tanah longsor, downlift, serta bencana banjir yang menjadi perhatian serius pemerintah dalam merumuskan SOP mitigasi bencana di Sulawesi Tengah. CAL

Silakan komentar disini...
loading...