Tiap Tahun Tujuh Juta Orang Tewas karena Polusi Udara

40
WhatsApp Image 2019-07-17 at 19.07.31
GUBERNUR Sulawesi Tengah Longki Djanggola dalam upacara gabungan yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Lingkungan Hidup tingkat Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2019 di halaman Kkantor gubernur setempat, Rabu (17/7/2019). FOTO: HUMAS

SultengTerkini.Com, PALU– Berdasarkan data WHO setiap tahun sebanyak tujuh juta orang tewas karena polusi udara dan di dunia tercatat sembilan dari 10 orang terpapar pencemaran udara yang berasal dari kendaraan bermotor, industri pertanian dan pembakaran sampah.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Longki Djanggola dalam sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Siti Nurbaya pada upacara gabungan yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Lingkungan Hidup tingkat Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2019 di halaman Kkantor gubernur setempat, Rabu (17/7/2019).

Untuk mengurangi polusi udara dari kendaraan bermotor sebut gubernur dapat dilakukan dengan upaya hijaukan kota seperti memperbanyak taman kota, tempat pejalan kaki yang teduh dan nyaman, fasilitas umum yang bersih dan akhirnya mendorong proses perubahan perilaku untuk tidak membuang sampah secara sembarangan.

Selain upaya-upaya yang sudah ada itu, pemerintah juga melakukan pengendalian polusi udara antara lain, dengan penerapan penggunaan bahan bakar bersih secara standar yang berpotensi menurunkan tingkat emisi CO sebesar 55% atau 280.721,8 ton per tahun.

Kemudian pengurangan emisi sulfur dioksida dan sekaligus memberikan keuntungan ekonomi sebesar Rp.1.970 triliun dari pengurangan biaya kesehatan pengurangan biaya produksi kendaraan bermotor dengan standar antara kendaraan untuk pemakaian dalam negeri dan untuk ekspor serta pengurangan biaya subsidi bahan bakar selama 25 tahun penerapannya.

Kebijakan penggunaan bahan bakar biodiesel 20% atau dikenal B 20 sebut gubernur, selain memberi kontribusi dalam mengurangi emisi CO2 hingga enam sampai delapan juta ton per tahun dibanding dengan penggunaan solar murni juga dapat memperbaiki kualitas proses pembakaran kendaraan bermotor.

Di lapangan hasil-hasil tersebut dapat diukur dengan penurunan hotspot sebesar 82% dari hotspot tahun 2015 sejumlah 21.929 titik. turun menjadi 3.915 titik tahun 2018 berdasarkan hasil satelit NOAA.

Dengan demikian pemulihan ekosistem gambut di areal usaha selain mampu mengurangi jumlah kebakaran hutan dan lahan juga mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 190.602.794,29 karbondioksida.

Upaya pengendalian polusi udara sebut Gubernur perlu diimbangi dengan gerakan menanam pohon untuk menambah kapasitas reduksi polusi udara.

Untuk itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menargetkan penanaman pohon seluas 207.000 hektar pada tahun 2019 ini dan terfokus pada 15 DAS prioritas, 15 danau prioritas, 65 dam bendungan dan daerah rawan bencana.

Gerakan tersebut akan memberi dampak yang lebih besar jika seluruh pihak berpartisipasi dengan target menanam dan memelihara 25 pohon seumur hidup. Target 25 pohon itu dapat dilakukan dengan menanam dan memelihara lima pohon saat jenjang sekolah dasar, lima pohon sekolah menengah pertama, lima pohon sekolah menengah umum, lima pohon perguruan tinggi dan lima pohon saat menikah.

“Oleh sebab itu kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung program penanaman 25 tahun seumur hidup dalam rangka menjaga kualitas udara, air, tanah serta ekosistem di bumi ini,” jelas Gubernur Longki. CAL

Silakan komentar disini...
loading...