Mantan Kapolda Sulteng Ditipu Ratusan Juta

123
Dewa-parsana2
MANTAN Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen (purn) Dewa Made Parsana saat bersaksi di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (20/6/2019).. FOTO: TRIBUN BALI/I PUTU CANDRA

SultengTerkini.Com, BALI– Philipus Danang Gagonoadi (42) hanya bisa diam menunduk saat dihadirkan di meja hijau persidangan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (20/6/2019).

Ia diadili karena diduga menipu mantan Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng), Brigjen (purn) Dewa Made Parsana Rp 238 juta.

Di persidangan selain mengagendakan pembacaan surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi korban.

Dalam keterangannya, selaku korban Dewa Parsana mengaku tidak menyangka akan menjadi korban penipuan yang dilakukan Danang.

Apalagi dalam pertemuan sebelumnya, Danang memberikan penawaran yang menggiurkan.

“Walaupun kami ini polisi, kami juga tertipu,” ucapnya di hadapan majelis hakim pimpinan IGN Partha Barghawa.

Selain ditipu Rp 238 juta, beberapa toko elektronik di Palu juga menjadi korban.

Terdakwa Danang sempat mengambil laptop di salah satu toko dengan mengatakan suruhan Dewa Parsana yang sempat tiga tahun menjabat sebagai Kapolda di wilayah tersebut.

Tidak hanya itu, pemilik kantin Polda Sulteng juga jadi korban penipuan terdakwa Danang.

“Di kantin dia ngutang sampai Rp 10 juta,” ungkapnya.

Dari keterangan yang disampaikan Dewa Parsana itu, terdakwa pun membenarkan perbuatannya.

Dengan telah mendengarkan keterangan saksi korban, sidang akan kembali dilanjutkan pekan depan.

Kembali mengagendakan pemeriksaan keterangan para saksi yang dihadirkan jaksa penuntut.

Dalam surat dakwaan Jaksa I Made Dipa Umbara membeberkan awal mula kasus ini terjadi.

Dikatakannya, berawal dari pertemuan antara Brigjen (purn) Dewa Parsana dan terdakwa Danang yang merupakan Direktur PT Duta Bangun Artha pada September 2016 lalu.

Di pertemuan tersebut, terdakwa menawarkan kerja sama pengembangan dan pengelolaan kawasan Monumen Gong Perdamaian milik Dewa Parsana di Palu.

“Salah satunya pembangunan taman cahaya dalam rangka penyambutan tahun baru 2017. Saksi korban lalu menyetujui kerja sama tersebut,” jelasnya.

Lalu pada November 2016, terdakwa menelpon Dewa Parsana dan menginformasikan jika perlengkapan taman cahaya sudah tiba.

Namun peralatan tersebut masih ditahan pihak Imigrasi.

Terdakwa lalu meminta uang Rp 238 juta untuk menebus peralatan tersebut dan selanjutnya dipasang di Monumen Gong Perdamaian.

“Korban melalui anaknya mentransfer uang Rp 238 juta ke rekening PT Duta Bangun Artha milik terdakwa,” ungkap Jaksa Dipa Umbara.

Dijerat Dua Pasal Sekaligus

Danang yang merupakan Direktur PT Duta Bangun Artha dijerat dua pasal sekaligus.

Pasal yang disangkakan adalah pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan.

Dalam sidang kemarin juga disebutkan, pada akhir bulan Desember 2016, Dewa Parsana yang datang ke Monumen Gong Perdamaian di Palu tidak menemukan peralatan seperti yang dijanjikan terdakwa.

Saat dihubungi, terdakwa mengakui kesalahannya dan berjanji akan mengembalikan uang milik Dewa Parsana.

Namun hampir setahun dijanjikan, uang tersebut tak kunjung dikembalikan terdakwa.

Dewa Parsana pun memilih melaporkan perkara ini pihak kepolisian, hingga akhirnya kasus tersebut bergulir ke pengadilan.

Sementara itu, Dewa Made Parsana yang dikonfirmasi SultengTerkini.Com per telepon genggamnya, Jumat (21/6/2019) malam membenarkan kasus itu.

Saat ini katanya, kasus tersebut masih bergulir di Pengadilan Negeri Denpasar.

“Saat itu saya sangat tertarik dengan tawaran itu, jadi saya sahuti, tetapi ternyata kemudian saya ditipu,” katanya.

(sumber: tribunbali.com)

Silakan komentar disini...
loading...