oleh

Perdagangan Hiu, Kalau Bisa Legal, Kenapa Harus Diselundupkan!

Fardi Kallang

Buang saja ke laut biar dimakan hiu. Demikian satu ungkapan yang lazim keluar dari mulut seseorang dalam pergaulan keseharian. Entah jengkel terhadap seseorang atau bentuk candaan kepada teman sejawat, yang jelas dalam ungkapan tersebut terselip kata hiu yang seolah-olah adalah sesuatu yang buas dan menyeramkan.

Hiu terdengar begitu familiar dalam masyarakat, tetapi sangat minim orang yang pernah melihat secara langsung hewan air ini.

Karena hiu termasuk salah satu kelompok ikan yang jumlah dan keberadaannya sangat langka dan terbatas.

Di Indonesia, terdapat beragam jenis hiu setidaknya terdapat 116 jenis hiu yang ditemukan tersebar di perairan pantai hingga kedalaman sekitar 150 meter atau lebih.

Ikan-ikan hiu berukuran besar umumnya adalah ikan yang hidup di perairan lepas pantai, memiliki sebaran luas dan memiliki kemampuan migrasi.

Hiu memiliki peranan penting dalam perikanan, berkurangnya hiu akan turut mengganggu hasil tangkapan nelayan.

Hal ini disebabkan karena hiu berada di posisi puncak dalam rantai makanan yang memakan ikan-ikan lebih kecil.

Secara alamiah hiu akan memangsa hewan-hewan yang lemah dan sakit, sehingga hanya akan menyisakan hewan-hewan yang masih sehat untuk tetap bertahan hidup di alam.

Maka dari itu, hiu memiliki peranan penting dalam menstabilkan ekosistem dalam menjaga komposisi dari populasi ikan yang umumnya dimanfaatkan oleh nelayan.

Hiu tergolong dalam satu kelompok ikan yang sama dengan pari, termasuk ciri khasnya pada seluruh bagian rangka yang terdiri atas tulang rawan.

Ciri khas yang membedakan antara kelompok hiu dan pari adalah posisi insangnya.

Insang pada hiu berada di bagian sisi kiri dan kanan tubuhnya, sedangkan ikan pari berada di bagian bawah.

Hiu memiliki nilai ekonomis tinggi karena hampir semua dari bagian tubuhnya dapat diolah menjadi produk.

Meski diketahui memiliki protein tinggi daging hiu bukan bahan konsumsi populer bagi para nelayan dan masyarakat Indonesia.

Namun sebaliknya hiu menjadi salah satu produk paling berharga di pasar Internasional.

Perikanan hiu di Indonesia dimulai pada tahun 1970.

Penangkapannya menggunakan pancing rawai (tuna longline).

Hasil tangkapan hiu tersebut bukan merupakan tangkapan target, melainkan tangkapan sampingan (by-catch) di perikanan tuna.

Penangkapan hiu meningkat ketika permintaan terhadap sirip hiu di pasar internasional semakin tinggi.

Bahkan nelayan menjadikan hiu menjadi tangkapan utama.

Eksploitasi atau pemanfaatan utama dari sumber daya hayati laut adalah usaha penangkapan ikan.

Di Sulawesi Tengah sendiri, perdagangan hiu dalam satu terakhir mulai nampak di permukaan utamanya di Kabupaten Tolitoli.

Sepanjang tahun 2017 berdasarkan data lalu lintas domestik keluar yang tercatat pada Stasiun Karantina Ikan Palu Wilayah Kerja Tolitoli sebanyak 10.561 kg (10,56 ton) Hiu beku tanpa kepala dan sirip telah diperdagangkan secara legal melalui pelabuhan laut Tolitoli setelah melalui beberapa tahap pemeriksaan dan pengelompokan atau upaya klasifikasi dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, sehingga terbit rekomendasi yang menerangkan bahwa jenis hiu yang diperdagangkan bukan merupakan jenis hiu yang dilarang dan dilindungi.

Setelah itu lebih lanjut dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh petugas karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran untuk menjamin bahwa media pembawa tersebut bebas dari serangan hama dan penyakit ikan.

Perdagangan dan pengawasan penangkapan  hiu memang diatur secara ketat tapi bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan hanya seja pengelolaan perikanan hiu perlu mendapat perlakuan yang lebih khusus mengingat hiu umumnya memiliki siklus hidup panjang dan kemampuan reproduksi rendah serta jumlah anak sedikit.

Di sisi lain aktivitas penangkapan hiu oleh manusia semakin meningkat, sehingga keberadaan hiu semakin terancam.

Saat ini jenis hiu yang dilindungi secara penuh adalah hiu paus (rhincodon typus) berdasarkan Kepmen KP Nomor 18 Tahun 2013.

Sedangkan jumlah hiu yang dilarang ditangkap berdasarkan resolusi IOTC ada tiga spesies Hiu Monyet (Alopias Pelagicus), Hiu Monyet (Alopias Superciliosus) dan Hiu Monyet (Alopias Vulpinus)  serta jumlah jenis hiu yang diatur perdagangan internasionalnya ada empat spesies berdasarkan CITES (Cop-16) tahun 2013 yakni  jenis hiu Koboi (Oceanic Whitetip Shark (Carcharhinus Longimanus) dan tiga Spesies Hiu Martil (Hammerhead Shark) Yakni  Hiu Martil Caping (Sphyrna Leweni), Hiu Martil /hiu Caping (Sphyrna mokarran) Hiu Martil/Hiu Caping (Sphyrna zygaena).

Ini berarti masih banyak jenis hiu yang bisa dimanfaatkan selama penangkapan dan perdagangannya harus dilaporkan sesuai dengan ketentuan saat ini.

Sebagai penutup, penulis ingin kembali mengingatkan ungkapan yang sering dikampanyekan dalam pengelolaan perikanan namun tidak banyak orang, organisasi atau institusi pemerintah yang perilaku dan misinya merefleksikan ungkapan tersebut yakni pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan adalah eksploitasi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa merusak dan menurunkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Penulis adalah Fungsional PHPI Pada Kantor Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Palu Wilayah Kerja Tolitoli

Silakan komentar disini...
loading...
(Visited 321 times, 1 visits today)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed